IB. Md Suardana, S.H

Matahari hampir tenggelam ketika crew MW jalan-jalan sambil cuci mata di sekitar pantai Sindhu. Air pantainya tenang, anginnya sepoi-sepoi, dan alangkah indahnya kalo bisa duduk santai sambil menikmati sebotol bir dingin. Sampai akhirnya crew MW mampir ke salah satu kafe pinggir pantai yang namanya Café Mango. Usut punya usut ternyata pemilik beach café ini adalah seorang surfer legendaris, I.B. Made Suardana ato biasa dipanggil Gus Mango. Ga mau hilang kesempatan ya akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan yang sedikit demi sedikit mengorek pengalaman surfingnya.
Gus Mango mengawali perjalanan surfingnya di tahun 1979. Saat itu dia masih duduk dibangku SMP. “Awalnya ya cuma anak nelayan biasa yang suka main di pantai, sampai akhirnya nonton film layar tancap yang isinya tentang surfing. Dari situ saya mulai tertarik sama surfing. Kelihatannya seru banget.” Pada saat itu, board masih sangat langka. Gus Mango mengandalkan board para wisatawan asing yang berkunjung ke pantai dekat tempat tinggalnya untuk belajar surfing. “Butuh waktu sekitar setahun sampai benar-benar ga kagok lagi pas ketemu ombak. Mulai mengenal mana ombak yang bagus untuk take off. Belajar tekniknya juga cuma melihat. Waktu itu tamu juga sedikit, cuma 3 sampai 4 orang yang bawa board, jadi kadang pulang sekolah, datang ke pantai pasti rebutan pinjam board sama teman-teman lain yang ingin belajar juga.”
Alasannya memilih surfing selain karena situasi tempat tinggalnya yang di pinggir pantai, juga karena faktor tantangan dan tidak adanya hiburan waktu itu. “Surfing itu olahraga yang menantang, perlu konsentrasi biar dapat bergerak maksimal. Pulang sekolah dulu main di pantai atau bantu orang tua dengan usaha kecil-kecilan jual minuman.” Jaman dulu, surfing bisa setiap hari, sekarang mesti nunggu dulu kapan ada ombak yang bagus. Ya, situasi pantai jaman dulu dan sekarang sangatlah berbeda. “Jaman dulu mana kenal kita sama tide chart? Sekarang sudah berhari-hari di Belan-Belan ga ada ombak. Mungkin faktor global warming dan banyak pengerukan pantai. Kadang tide chart-pun ga sesuai sama situasi yang ada. Agak sulit sih. Tapi yah, beginilah kondisinya.”
Hingga saat ini, Gus Mango masih sering surfing. Spot favoritnya tentu di Belan-Belan beach dan beberapa spot di Biaung. Pengalaman surfingnya sudah sangat banyak, tidak hanya di Bali, tapi juga di luar negeri seperti Australia dan beberapa negara lainnya. Gus Mango mengaku tidak pernah mengikuti kontes surfing. “Jaman saya mana ada kontes surfing. Saya surfing karena saya suka, karena sudah menjadi hobi. Kalo sekarang disuru ikut kontes, yah sudah bukan umurnya lagi. Biarin yang grommet yang unjuk kebolehan. Mereka kan butuh support dan motivasi dari kita-kita yang sudah punya pengalaman. Yah, kalo bisa sih di sponsorin juga, biar mereka lebih semangat lagi untuk berprestasi. Saya cukup menjadi juri aja. Hahaha.”
Kini, ayah dari 3 orang anak ini, cukup sibuk menjadi seorang entrepreneur. Usaha beach café yang dirintisnya selama 25 tahun tergolong ramai. “Ya, di syukuri apa yang ada sekarang. Semua berkat kerja keras dan keseriusan dalam menjalani sesuatu. Sampai akhirnya jadilah semua ini. Ada penginapan, hotel, beberapa restoran dan salon. Yang penting punya niat dan mau berusaha sampai berhasil. Hehehe.” Kenapa diberi nama Mango? Padahal, kalo mau dilihat di sekelilingnya ga ada tuh pohon mangga. “Itu juga saya masih bingung. Dulu saya ketemu dengan orang Itali. Dia bilang kalo suatu saat saya punya usaha lebih baik dikasi nama Mango. Jadi saya pakai aja, tapi sampai sekarang saya juga masih bingung kenapa mesti Mango. Saya belum sempat bertanya lagi, hahaha.”
Ditanya soal cita-citanya, ternyata Gus Mango pernah ingin menjadi tentara. “Dulu saya hampir mendaftar di sekolah tentara, tapi dilarang sama orangtua, katanya takut nanti perang-perang saya hilang. Hehe.” Untungnya ga jadi tentara ya, kalo jadi berarti hari ini ga bisa duduk di Café Mango seperti saat ini, (^.^).
Pesan penting dari pria yang pernah menyabet juara 2 lomba Karate Tenaga Dasar Indonesia di Jakarta ini adalah jangan setengah-setengah. “Iya, saya kepingin terus eksis di dunia surfing. Buat semua surfer muda, jangan mudah puas. Jangan setengah-setengah kalo melakukan sesuatu. Kalo sudah eksis di suatu bidang, harus mencetak prestasi yang membanggakan. Disiplin waktu juga jangan lupa. Kalo ingin sukses ya harus usaha bagaimana caranya biar sukses.
Last word, “Yang pasti jangan menggunakan narkoba. Itu yang paling penting. Ayo sama-sama bersihkan image dunia surfing dari drugs.”
Name : IB. Md Suardana, S.H
Nick : Gus Mango
D.o.b : sanur 16 juni 1965
Board size : mini mail
Style : right thunder
(text:Puu, photo:)
Post your comment
| Event Name | Date |
|---|
Magic Wave on Facebook
- yuko "beLa" okazaki on Ayu Shille Minota
- famy on Sixth Sense Surf Shop
- dayu echa on toko hurley
- made p on Dewi Okinawa
- Kadomini on is all about community in bali (sk8)
- Kadomini on is all about community in bali (sk8)
- hale on Vendik (Loco)
- barker on Substance Boardriding Padang
- wira on Panaitan Island
- Audi on Substance Boardriding Padang
