Wayan Yasa

Sosok yang tegas dan bersemangat, itulah kesan MW ketika beberapa waktu lalu berbincang-bincang dengan salah satu tokoh yang pernah berpengaruh dalam tubuh BSA (Bali Surfing Association ). Di sela-sela waktunya, legend seminyak ini berbagi kesan-kesan surfing yang masih tergores dihatinya sampai saat ini.

Semangat yang dimiliki telah tumbuh sejak Pak Yasa kecil. Ketika Ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah yang baru berjalan tiga bulan,  karena diketahui ternyata belum cukup umur untuk bersekolah. Masih dengan semangat yang dimiliki, Pak Yasa mengawali surfing di usia sekolah dasar. “dulu sepulang sekolah saya pernah berjualan kelapa muda di pantai. Saya melihat bule-bule surfing, dan dengan sengaja saya tungguin mereka sampai selesai, dengan harapan nanti dikasih pinjem boardnya, hehehehe…dan ternyata memang dikasih pinjam bahkan diajarin surfing sama mereka.” Ujarnya

Surfing telah membuat pria kelahiran 26 September 1959 ini keranjingan. Bahkan membuatnya lupa jalan pulang kerumah. “Kami anak pantai, jaman dulu tidak pernah pulang kerumah. Kerjaannya surf trip terus-terusan. Karena itulah banyak surfer Seminyak yang akhirnya berhenti karena dimarahin orang tua. Yang tetap aktif saat itu hanya saya dan Wayan Ledang.” Kenang Pak Yasa.

Mengenai ukuran papan, Pak Yasa mengaku hampir semua ukuran dimiliki dan pernah menemaninya menari di atas ombak. Hal itu berarti pula, pak yasa memiliki papan yang cukup banyak. Hanya saja setelah tidak terlalu aktif, papan-papan tersebut dikirim ke Cimaja untuk mengembangkan surfing disana. “ sekarang sudah jarang sekali surfing, terakhir tahun 2005 di seminyak depan Gado-gado.” Ungkap mantan ketua BSA ini.

Mengenai kiprahnya dalam tubuh BSA, Ia pernah menjabat menjadi ketua BSA selama tiga tahun dimana melebihi masa jabatan yang seharusnya 2 tahun. “kami memiliki tujuan yang sama dengan BSC, memajukan surfing Indonesia, tapi setelah saya selesai menjabat saya sudah tidak tau lagi bagaimana pergerakan BSA saat ini.”

Sebelum akhirnya mengakhiri bincang sore ini, Pak Yasa menguraikan harapannya terhadap surfing Indonesia, “ Harapan saya semoga surfing Indonesia tetap eksis dan menghormati organisasi-organisasi lokal. Dan untuk industri jangan lupa pada organisasi yang telah membesarkan mereka. Saya juga berharap agar BSA tetap eksis, berjalan dengan semestinya.

Text. Bee, photo Bee, Courtesy of Wayan Yasa and Dedik Double D


Raul Calle
Raul Calle (09/01/2010 03:29:25)
PAC YASA HOW ARE YOU THIS IS RAUL HOPING YOU AND YOUR BEUTIFULL BALI FAMILY... HAPPY HAPPY NEW YEAR...OLAS 4 EVER!

Post your comment




Click to change the avatar
Change avatar


validation code


Event Name Date
Magic Wave on Facebook