Musik
BAGAIKAN
Terbentuk di Jogjakarta 1 Desember 2000 yang masing-masing personil mempunyai background musik berbeda-beda dan pengalaman diberbagai grup band, yang selanjutnya bersatu dalam grup band yang dinamai : B A G A I K A N
Hidup Band Indie Bali..!! Kata itu cukup tepat untuk diberikan kepada kedua musisi Ocha dan Dankie ( Dialog Dini Hari). Pada tanggal 6 Januari 2009, bertempat di Ozigo Renon kedua musisi ini mengadakan launching album mereka. Acara yang dimulai pukul 9 malam ini diawali dengan penampilan dari beberapa band lokal seperti The Sora, Day After The Rain, dan Rokavatar. Acara dilanjutkan dengan penampilan dari Ocha, yang bisa dibilang sangat memukau. Penampilan Ocha yang malam itu terlihat sangat cantik (hmmmm...) ditambah dengan tembang andalannya seperti : Tak Mungkin Mendua, Cinta diatas Kasta dan Taksu.
Post Comments | Continue Reading
Kemajuan teknologi yang pesat dibarengi juga dengan majunya dunia cyber. Banyak fungsi yang bisa kita dapatkan di dunia cyber. Misalnya saja untuk ajang promosi atau berteman lewat dunia maya. Untuk industri musik juga sudah banyak website yang menyguhkan semua tentang musik. Begitu juga dengan band, official website juga sangat penting untuk memberika informasi atau juga untuk promosi.
Siapa yang tak kenal PARAU di Bali? Semuanya pasti sudah tau denga band yang satu ini. Kiprahnya di dunia music Bali mengejewantahkan pernyataan kalau music di Bali hanya Punk Rock atau Rockabilly. Parau terbentuk pada bulan September 2002 di Denpasar – Bali yang didirikan oleh 4 orang pemuda.
KUTA-Bagaimana jika citarasa musik ala Blink 108 bercampur dengan Offspring? Tidak perlu bingung memikirkan seperti apa nada, tempo, raungan gitar, dan cabikan bass, serta hentakan pedal drumnya. Cukup dengarkan saja Angel & Airwave (AVA). Dan, Rabu (10/12) malam, citarasa musik yang ditawarkan grup asal San Diego , California , ini akhirnya bisa dinikmati oleh masyarakat Bali . Tampil dengan format akustik, AVA membawakan 10 lagu andalannya.
Kali pertama saya melihat band ini di sebuah event yang diadakan di Pantai Kuta. Saya melihat tiga pemuda ini diatas panggung waktu itu dan otak saya langsung mengingatkan pada band Ramones, Screeching Weasel, The Queers, sampai Me First and Gimme Gimmes. Mereka adalah The Sneakers yang terdiri dari Eko (gitar-vokal), Didit (bass-vokal), Yudi (drums). Band yang terbentuk tanggal 30 Maret 2006 ini memang terinfluence dari band-band diatas tadi.
The Last One terbentuk pada tahun 2005 di Jakarta. Terinspirasi oleh gaya old school punk, Albar Tikam dan Ijal (Fortrash) membentuk band ini. Setelah dua tahun berdiri dan berkelana di scene music Jakarta, Albar hijrah ke Bali. Bali adalah tempat yang dianggap cocok oleh Albar sehingga dia memutuskan untutk tinggal di Bali mulai tahun 2007. Namun nama The Last One tetap dibawa Albar ke Bali meninggalkan Ijal di Jakarta.
Innocenti yang satu ini bukan perusahaan penghasil skuter, melainkan band yang personilnya memang penggemar skuter, dan memainkan sound Mod Revival. Lalu apa gerangan mod revival itu? Hikayat bercerita tentang sebuah zaman yang indah di Inggris pada tahun 1960-an saat band-band seperti The Who atau Small Faces, The Kinks menjadi idola anak-anak muda berdandanan rapi yang disebut Mod, yang menganggap musik band-band tersebut sebagai sesuatu yang sangat modern dan keren.
Proyek kompilasi ini merupakan gabungan kerjasama dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Electrified Record label milik band Naif, serta dukungan penuh sejumlah musisi yang memiliki concern yang sama terhadap kampanye Siaga Bencana Nasional: suatu penyebaran informasi bagi masyarakat luas mengenai pentingnya kesiap-siagaan dini terhadap bencana, mengingat sejarah dan letak geografis negara ini yang rawan bencana alam, khususnya gempa dan tsunami.
Nymphea adalah sebentuk anomali yang mencerahkan. Satu dari sejumlah kecil titik terang yang menyeruak dari kegelapan rimba band-band cengeng tipikal Melayu. Tak cuma itu, saya berani bilang bahwa musik Indonesia butuh Nymphea. Huh? Well, look, coba deh simak sekitar, kapan sih terakhir kali kita mendengar teriakan bertenaga dari seorang lady rocker? Benar, sudah lebih dari satu dekade kita tak lagi dihibur oleh biduan perempuan berkarakter suara lebar, tinggi dan garang. Nusantara sedang paceklik generasi penerus Sylvia Saartje, Euis Darliah, Nicky Astria, Anggun C. Sasmi (pre-Anggun era), dan sebangsanya.
| Event Name | Date |
|---|
- tipi on toko hurley
- item-jogja on Jerinx
- meng kacek on Robot looking sponsor
- marlon on toko hurley
- parwathie on fabian - Kecebong
- sonny on Vendik (Loco)
- sonny on Vendik (Loco)
- Bulletproof Vest on AKADEMIKA GREEN PARTY
- krishna - cuy - priandana on Hebring Cup Surf for Freedom Contest
- Donie on New trend of surf 2010

